Senin, 25 Juni 2012

CERITA HIDUP


CERITA HIDUP


Tokoh :
Bambang         :           suami
Tumiyah          :           istri
Ratih               :           anak perempuan
Ujang              :           anak laki-laki

Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.
Inilah kisah tentang kaum comberan, kisah tentang orang-orang yang mengatakan bahwa hidup adalah untuk makan dan senang-senang!
BABAK I
Adegan 1
Sebuah gubuk reot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter yang amat sederana, tampak seorang bapak paruh baya keluar dari kamar yang hanya dibatasi oleh triplek dan kain kumal. Pak Bambang namanya, ia menguap lalu duduk di dipan kayu yang sama reotnya. Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.
Pak Bambang terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.

BAMBANG:  Merah delima?
(Bambang kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)
Tum! Tumiyah! Tumiyah…!
(Tak ada sahutan, Bambang lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)
Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutaruh di meja?
Tum! Kau dengar aku Tum?
(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya)

Adegan 2
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Bambang tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.

TUMIYAH:    Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak sialan! Kau tahu Bambang? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!

BAMBANG: Heh, apa kau lihat lembaran syairku yang kusimpan disini?

TUMIYAH:    Mana aku tahu syairmu, pagi ini aku sedang kesal.Lagi pula, apa tidak ada pekerjaan lain selain mengurusi syair-syair sialanmu itu?

BAMBANG:  Dari pada kau mencaci maki terus-terusan, lebih baik kau bikinkan aku segelas kopi, biar otakku sedikit encer menghitung angka-angka ini

TUMIYAH:    Hari ini tak ada kopi! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!

BAMBANG:  Alaaah! Kau tahu apa tentang merah delima?
(Bambang melanjutkan pekerjaannya dan Tumiyah menghilang menuju dapur)

 Adegan 3

Ketika Bambang asyik dengan pekerjaannya, Ujang anaknya—yang masih berusia 10 tahun—datang, pakaiannya basah kuyup. Dengan melenggang kangkung, ujang mendekati bapaknya dan duduk di dipan. Matanya sibuk memperhatikan bapaknya yang sibuk menghitung angka-angka.

BAMBANG:  He, anak sialan! Kenapa bajumu basah? Heh, aaa, aku tahu, kau pasti ngintip janda kembang itu mandi ya? Kecil-kecil sudah kurang ajar! Ayo pergi sana! Ganti bajumu! Mengganggu konsentrasiku saja!
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Bambang masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)

TUMIYAH:    Anak sialan! Hei, mau kemana kau? Heh, jangan lari! Kembalikan dulu uangku yang 3000 perak! Pasti kau yang mencurinya! Hei, jangan lari! Keparat, sampai kapan kau mempermainakan orang tua, heh? Awas kau! Awas!
(Tumiyah terlambat, lari Ujang begitu cepat, begitu keluar dari dapur, ia hanya mendapati suaminya yang tengah asyik dengan angka-angkanya, kontan saja, suaminya pun jadi sasaran kemarahannya)

TUMIYAH:    Mbang, apa kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, heh? Ke pasar kek, kemana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah pak tua!

BAMBANG:  Kau ikhlaskan saja 3000 perak itu, untuk beli minyak tanah ngutang dulu di warung si Leman, aku sedang nunggu si Kontan untuk urusan penting.

TUMIYAH:    Kontan gundul bonyok! Apa sepenting itu Kontan hingga kau harus menunggu? Dengar pak tua, utang sama si Leman sudah tiga puluh ribu perak, yang penting sekarang minyak tanah, bukan Kontan

BAMBANG:  Perempuan goblok, kau tahu apa tentang merah delima? Heh, kalau jadi…hem. Kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan…

TUMIYAH:    Alah sudah! Dasar pembual!
(Tumiyah memotong ucapan suaminya, bertengkar dengan lelaki ini, tak akan menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Lalu menyapu gubuknya yang seperti kapal pecah. Tengah asyik menyapu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari rabu. Tumiyah tersenyum, emosinya sedikit reda. Ia berhenti menyapu dan mendekati suaminya yang sedang mabuk membayangkan rumah sehebat Griya Arta)

TUMIYAH:    Apa kau sudah mendapatkan inpo alam pak?

BAMBANG:  Heeeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!

TUMIYAH:    Weeaalahh, tololnya, kalau kau menang kan aku juga yang senang, lagian, apa kau punya duit? Beli minyak tanah saja tidak pecus!

BAMBANG:  Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba kau bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun. Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang satu ini aku harus bisa. Aku akan mengandalkan si Kontan, setidaknya untuk dua kupon.

TUMIYAH:    Terserah, mau Kontan mau setan, aku sudah tak mau tahu, yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan karena Kontan.
(Tumiyah buru-buru bangkit, menyelesaikan pekerjaanya menyapu rumah, agak lama. Ia menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang masih bermimpi dengan rumah seindah Griya Arta, hati-hati, ia kemudian menyelinap keluar, bukan ke warung Leman, tetapi ke Pasar untuk membeli dua lembar kupon)

Adegan 4
Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. Tiba-tiba Ratih (anak gadisnya) muncul, Ratih datang dengan membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Pak Bambang jadi iri dan lapar. Pak Bambang jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya pergi entah kemana.

BAMBANG:  Tentu kau masih menyimpan uang, belikan ayah sebungkus lagi, pake tahu.

RATIH:           Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli bedak, bedakku habis
(Ratih tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)

BAMBANG:  Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Ujang kan?

RATIH:           Enak saja, bang Jono yang kasih aku lima ribu

BAMBANG:  Jono? Laki-laki brengsek itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan sama Jono. Jono senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa.

RATIH:           Nggak! Pergi saja sendiri.
(Ratih kemudian lari ke belakang, tentu saja Johari marah sambil berteriak)

BAMBANG:  Keparat! Awas kamu Ratih, aku doakan kau nyahok dengan Jono!
(Pak Bambang pun pergi keluar rumah)

Adegan 5
Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan. Kecuali Pak Bambang yang memang belum pulang, semua penghuni di rumah itu telah lama lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Ya, tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.
Pukul sebelas malam, pak Bambang baru pulang. Tubuhnya sedikit oleng pertanda sedang mabuk berat. Mulutnya ngomel-ngomel tak karuan. Memanggil-manggil Tumiyah Istrinya.

BAMBANG:  Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..
(Mulut Bambang terus menceracau, dalam benaknya sudah terbayang nikmatnya bercinta dengan Istrinya. Johari kemudian bergerak menuju salah satu kamar dalam gubuknya, tapi bukan ke kamar dimana Tumiyah Istrinya telah lama terlelap. Barangkali gara-gara terlalu mabuk sehingga Bambang lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ratih anak gadisnya. Dan…)


* * *
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar