KETIKA SEMUANYA HARUS PERGI
(Elok Ilmi M, 2101405537)
BABAK
I
(
Joni adalah seorang anak dari keluarga kaya raya yang suka sekali menghambur-hamburkan
uangnya. Selain itu dia juga sering membuat keributan baik itu di sekolah
maupun di luar sekolah. Namun seketika kehidupannya berubah hanya hanya dalam
satu hari. Sesuatu hal menyebabkan perusahaan ayahnya bangkrut dan tak hanya
sampai disitu, kedua orang tuanya pun meninggal dunia. Kini tinggallah si Joni
yang kecewa pada dirinya sendiri. Dia kini sendiri menghadapi getirnya hidup
tanpa sosok ayah dan ibunya. )
Setting
:
1.
Sebuah rumah mewah di kawasan perumahan ellite di kawasan Jakarta.
2.
Sebuah kamar yang terletak di lantai 2 rumah tersebut.
3.
Terdengar suara alarm jam weker.
Di
sebuah Senin pagi sebuah jam alarm berbunyi membangunkan pemiliknya.
(Bunyi
alarm jam weker.)
Joni : “Gila udah jam segini
wah bakal telat lagi ne..”
(Beranjak
dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat ke
sekolahnya, setelah selesai Joni menuju ruang tamu yang berada di lantai bawah.
Disana Ibunya telah menunggu dengan pembantunya di ruang makan dengan sarapan
yang telah disiapkan di atas meja makan.)
Joni : “Bu..aku berangkat
ya..”
Ibu Joni : “Ga sarapan dulu Jon?”
Joni : “Ga
ah males sarapan...”
Ibu Joni :
“Ya udah kalo gitu, hati-hati ya di jalan”
(Joni
pergi ke garasi untuk mengambil motornya yang akan digunakan untuk berangkat ke
sekolah.)
Pembantu Joni : “Kok mas Joni ga sarapan dulu bu?”
Ibu Joni : ”Ga tau mbok capek saya ngeliat
kelakuannya Joni seperti ini terus, sulit diatur”
(sambil
duduk di kursi.)
Pembantu Joni : “Sabar ya bu, memang seumuran mas Joni lagi
nakal-nakalnya bu”
(sambil
menata makanan yang ada di meja makan.)
Ibu Joni : “Tapi sampai kapan mbok? Saya dan
ayahnya ingin kelak dia yang meneruskan bisnis keluarga ini. Dia kan anak
kami satu-satunya. Tapi jika kelakuannya seperti ini...”
Pembantu Joni : “Oh iya bu, tadi bapak kok tumben berangkat
pagi-pagi sekali?sampai ga sempet sarapan juga?”
Ibu Joni : “Tadi dapat telpon dari kantor,
kelihatannya sih penting banget”
Pembantu Joni : “Maaf bu, tapi tadi obat jantungnya bapak
ketinggalan dan sepertinya tinggal
sedikit”
(sambil
membersihkan meja makan.)
Ibu Joni : “Ya udah mbok ntar saya pergi ke
apotek biar dianter pak Agus”
(Terlihat
tertekan dengan permasalahan anak tunggalnya si Joni.)
Ibu Joni : “Ya udah mbok, mbok bersihkan
teras depan ya mbok”
Pembantu Joni : “Inggih bu”
(Ibu
Joni beralih ke kamarnya sementara si mbok menuju ke teras depan rumah untuk
menyapu.)
BABAK
II
Setting
:
1.
Sebuah sekolah ellite di halaman parkir
sekolah
2.
Beberapa anak sekolah datang dan memarkirkan
kendaraannya
Tya : “Eh Lus, mana cowok
kamu?”
Lusi : “Halah paling juga telat
kaya biasa”
(Joni
datang ke halaman parkir dengan motornya.)
Beni : “Tu cowok kamu dah dateng”
(Joni
masuk tempat parkir.)
Joni : “Hallo..halloo..”
(Memarkirkan
motornya.)
Beni : “Emang bandung pake
hallo..hallo..segala”
Lusi : “Tumben Jon biasanya
kamu nongol kalo pelajaran udah dimulai itupun pake acara ngelompat pager sekolah lagi”
Joni : “Aku ga sarapan tadi,
nanggung”
Beni :
“Males ni sekolah, mana tar ada pelajarannya Pak Edi lagi, aku phobia
ma dia.”
Lusi : “Halah paling juga kamu
belum ngerjain PR kan?”
Beni : “He..he tau aja kamu
lus..Jon cabut yuk..”
Joni : “Kemana Ben?”
Beni : “Tempat tongkrong biasa,
mau ga?”
Joni : “Aku sih mau aja, lha Tya
ma Lusi mau ikut juga?”
Lusi : “Aku ga ikut ah, males
keluar ni..lagi dapet..maap ya”
(Sambil
memegang perutnya.)
Tya : “Yaa payah kamu Lus,
kasian Joni tar sendirian kan”
Joni : “Udah ga apa-apa kok,
ya udah yuk cabut mumpung tu anjing lagi ga ada”
Beni : “Anjing...yang mana?”
Joni : “Itu pak Tagor..satpam
sekolah kita”
(Menunjuk
pos satpam yang kosong.)
Tya : “Bisa aja kamu Jon, dia
sih gorilla bukannya anjing”
Joni : “Udah ah berangkat yuk”
(Menaiki
motornya dan menyalakannya.)
Tya : “Beneran ga mau ikut ni
Lus?”
(Membonceng
Beni.)
Lusi : “Ga ah”
Beni : “Ya udah kalo gitu”
(Menyalakan
motornya.)
Lusi : “Hati-hati ya jangan
sampe kena razia orang jelek lho ya”
Beni : “Dasar kunyuk”
(Joni,
Tya dan Beni mengendarai motornya meninggalkan parkiran, sementara Lusi menuju
ke ruang kelas.)
BABAK
III
Setting
:
1.
Rumah Joni terlihat sepi karena yang ada
di sana hanya pembantunya saja.
2.
Dari ruang tengah terdengar suara telpon
berdering.
3.
Pembantu Joni berlari menuju telpon yang
berdering.
Pembantu : “Selamat pagi, dengan kediaman bapak
Hartanto”
(Mengangkat
telpon.)
Pak Joko : “Hallo mbok, ini aku Joko..”
(Pak
Joko adalah supir pribadi ayah Joni.)
Pembantu : “Kenapa Jok?”
Pak Joko : “Ini mbok, bapak jantungnya kumat”
Pembantu : “Terus gimana sekarang, tadi obatnya
ketinggalan di rumah lagian juga tinggal sedikit, ini ibu sedang ke apotek
dianter pak Agus”
Pak Joko : “Bapak sekarang sedang dalam
perjalanan ke Rumah Sakit Griya Lara, kayaknya agak parah”
Pembantu : “Ya udah kamu nemenin bapak aja ya,
aku telpon ibu dulu sekarang”
(Telpon
ditutup, pembantu Joni menelpon Ibu Joni.)
(Telpon
diangkat oleh ibu Joni.)
Ibu Joni : “Hallo..ada apa mbok?”
Pembantu Joni : “Bapak bu, jantungnya kumat lagi, sekarang
sedang ke rumah sakit”
Ibu Joni : “Ya udah sekarang saya langsung
kesana aja, tar Joni saya kasih tau, mbok jaga rumah ya”
Pembantu Joni : “Iya bu..”
(Telpon
ditutup.)
BABAK
IV
Setting
:
1.
Sebuah gedung di pinggir jalan yang
tidak terpakai.
2.
Kendaraan lalu-lalang di jalan.
3.
Joni, Beni dan Tya berada di dalam
gedung tersebut.
4.
Terdapat botol-botol minuman keras dan rokok.
Beni : “Jon, ibu kamu ga marah
liat kamu kaya gini?”
(Menghisap
sebatang rokok.)
Joni : “Halah, napa ngomongin
itu sih?”
(Menengguk
segelas minuman keras.)
Tya : “Iya Jon, kamu kan anak
tunggal, ortu kamu orang kaya, otomatis besok-besoknya juga kamu juga jadi orang kaya kan?”
Joni : “Besok ya dipikir
besok, sekarang ya sekarang, udah ah ga penting banget..bikin pusing aja”
Beni : “Tapi kalo kamu udah
jadi orang kaya jangan lupa sama kita-kita ya Jon”
Joni : “Iya-iya..”
(Kembali
menengguk segelas minuman keras dan merokok.)
(Terdengar
suara HP.)
Tya : “HP kamu tuh Jon”
Joni : “Halah ga penting..”
(HP
masih berdering.)
Beni : “Udah diangkat aja”
Joni : “Siapa sih?”
(Melihat
ke HP.)
Joni : “Waduh nyokap ni”
(Meletakkan
HP di dalam tas.)
Beni : “Lho kok ga diangkat?”
Joni : “Gila kamu, kalo
diangkat ya tar ketahuan aku lagi mabok”
Tya : “Tapi siapa tahu itu
penting”
Joni : “Paling juga cuma
ngecek aja, udah ah lanjut.....”
Beni : “Eh itu kan Bagus, Eko,
Jono ma Sita”
(Menunjuk
pada segerombolan anak berpakaian bebas yang sedang menuju mereka.)
Eko : “Wah lagi party ya?”
(Duduk
di sebelah Joni.)
Joni : “Dah dari tadi, kalian
telat sih”
(Menawarkan
segelas minuman keras pada Eko.)
Bagus : “Sori banget bos, tadi aku
ketilang polisi, bangsat tu polisi gara-gara spion aku kena 50 ribu”
(Menyulut
rokok dan duduk di sebelah Beni.)
Sita : “Kamunya yang idiot,
spion beda ukuran dipasang”
(Duduk
di sebelah Tya.)
Joni : “Dasar kucluk”
Jono : “Udah-udah minum aja
daripada ribut terus..”
(Mengacungkan
gelas ke atas.)
(Pesta
mereka pun berlanjut.)
BABK
V
Setting
:
- Di RS Griya Lara di depan ruang ICU.
- Terlihat Ibu Joni ditemani pak Agus dan pak Joko
- Beberapa perawat dan seorang dokter keluar dari ruang ICU.
(Seketika
berdiri dan bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruang ICU)
Ibu Joni :
“Bagaimana dok keadaan suami saya?”
Dokter : “ Maaf bu, kondisi bapak
sangat lemah bahkan beliau masih dalam keadaan kritis. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin”
Ibu
Joni : “Tolong sembuhkan suami saya dok..”
(Memegang
tangan dokter dengan menangis)
Dokter : “Iya bu, kami akan berusaha
keras, sekarang lenih baik ibu berdoa untyuk kesembuhan bapak”
Ibu Joni :
“Terima kasih dok..”
(Melepas
tangan dokter kemudian mengusap air matanya dengan tangan)
(Dokter
kembali menuju ke dalam ruang ICU)
(Ibu
Joni terduduk di kursi dengan lemas)
Ibu Joni :
“Pak agus tolong jemput Joni ke sekolah, tadi saya telpon kok ga
diangkat-angkat”
Pak agus :
“Iya bu..ibu yang sabar ya”
(Berdiri)
Ibu Joni :
“Terima kasih pak”
Pak agus :
“Jok, kamu disini aja ya nemenin ibu”
Pak joko :
“Iya gus, sudah sana berangkat”
(Pak
joko pergi ke halaman parkir untuk menjemput Joni ke sekolah)
(Terlihat
seorang staff kantor ayah joni, orang itu adalah Nanto, tangan kanan ayah Joni)
Nanto : “Selamat siang bu Hartanto”
(Berdiri
di depan ibu Joni)
Ibu Joni : “Oh Nanto, mari silahkan”
(Nanto
duduk di sebelah Ibu Joni)
Nanto : “Maaf bu, bagaimana kondisi
bapak?”
Ibu joni : “Bapak masih dalam keadaan
kritis”
(Masih
terisak tangis)
Nanto : “Sebelumnya maaf bu, mungkin
terlalu cepat untuk menyampaikan berita ini, namun karena hal ini sangat
penting maka saya harus menyampaikan berita ini pada ibu”
Ibu joni : “Tentang apa to?”
Nanto : “Begini bu, perusahaan
mengalami kerugian besar bu, hutang perusahaan di bank ternyata sudah menumpuk
dan laporan keuangan dari rapat tadi pagi yang menyebabkan jantung pak hartanto
kumat”
Ibu Joni : “Ya allah kenapa bisa begitu,
kenapa cobaan datang beruntun seperti ini?”
(Terjatuh
pingsan)
Nanto : “Ibu kenapa bu...”
(Panik
sambil memegang Ibu Joni)
Nanto : “Suster tolong..”
(Beberapa
suster mendatangi ibu joni dan membawanya ke dalam ruang ICU)
BABAK
VI
Setting
:
1.
Rumah joni
2.
Joni masuk ke dalam ruang tamu
3.
Suasana sepi
4.
Pembantu joni menemui joni
Joni : “Mbok, lagi pada dimana
sih kok sepi banget”
(Melepas
sepatunya)
Pembantu joni : “Bapak mas, bapak jantungnya kumat lagi dan
ibu sekarang sedang di rumah sakit nunggu bapak”
Joni : “Kok ga ada yang ngasih
tau aku?”
Pembantu joni : “Tadi katanya mau ditelpon ibu mas”
Joni : “Ya udahlah sekarang aku
ke rumah sakit aja, rumah sakit mana mbok?”
(Kembali
memakai sepatunya)
Pembantu joni : “Rumah Sakit Griya Lara mas”
Joni : “Ya udah aku kesana
sekarang ya mbok”
(Pergi
meninggalkan rumah masih dengan baju sekolahnya menuju garasi)
BABAK
VII
Setting
:
1.
Di depan ruang ICU terlihat pak joko dan
Nanto sedang bercakap-cakap.
2.
Terlihat beberapa perawat sedang berjalan
3.
Joni mendatangi pak joko dan Nanto
Joni : “Pak Nanto gimana ayah?”
(Berdiri
di depan Nanto)
Pak Nanto : “Masih di dalem mas”
Joni : “Ibu mana?”
Nanto : “Ibu tadi juga ikut pingsan
dan juga dibawa ke dalam mas”
Joni : “Kok ibu bisa ikut-ikutan
sih”
Nanto : “Maaf mas tadi ibu kaget waktu
saya cerita tentang perusahaan yang sedang bangkrut”
Joni : “Setan kamu, jelas aja ibu
kaget!!”
(Mencengkeram
baju nanto)
Nanto : “Tapi ini sangat penting mas,
saya juga ga tau kalo bakalan jadi seperti ini”
Joni : “Bodo amat, ini semua
salah kamu”
(Melepas
cengkeramannya dan terduduk lesu di kursi membayangkan akan masa depannya yang
suram)
(Pintu
ruang ICU terbuka, dokter keluar dari dalam dengan wajah tertunduk lesu)
Joni : “Ayah ma ibu gimana dok?”
(Berdiri
dan berjalan menuju dokter)
Dokter : “Maaf mas, bapak dan ibu Hartanto
telah menghadap sang Khalik”
Joni : “Apaaa...!!!”
(Duduk
terjatuh)
Joni : “Kenapa bisa begitu dok”
(Meneteskan
air mata)
Dokter : “Bapak Hartanto meninggal
karena penyakit jantungnya yang memang sudah akut, sedangkan ibu Hartanto meninggal
juga karena serangan jantung yang beruntun”
Joni : “Innalilahi wa inna
illaihi roji’un..”
Nanto : “Mas joni yang sabar,
istighfar mas”
(Joni
hanya diam tertunduk lesu sambil menatap jenazah ayah dan ibu nya yang
dipindahkan menuju kamar jenazah, joni hanya bisa memberika ciuman terakhir
pada kedua orang tuanya pada saat jenazahnya baru keluar dari ruang ICU)
BABAK
VIII
Setting
:
1.
Di sebuah pemakaman terlihat beberapa
orang keluar dari area pemakaman.
2.
Joni masih berada di makam kedua orang
tuanya ditemani pembantu dan dua orang sopirnya.
3.
Joni menangis di atas nisan ibunya.
Joni : “Yah,bu kenapa? Kenapa
harus begini?”
(Menangis
sambil memegang nisan ibunya)
Joni : “Aku mesti bagaimana bu,
apa yang mesti aku lakukan setelah ini? Aku ga bisa apa-apa bu”
Pak Joko : “Sabar mas, kami akan tetep
nemenin mas Joni kok”
(Memegang
pundak Joni)
Joni : “Tapi kita akan makan apa
pak? Semuanya sudah ga ada, rumah dan isinya juga udah disita bank, aku jadi
pengen nyusul ayah dan ibu”
Pembantu Joni : “Jangan bilang gitu mas, ga baik”
(Berjongkok
di sebelah Joni)
Joni : “Trus gimana lagi mbok,
aku sudah ga punya apa-apa lagi sekarang”
Pak Joko : “Mendingan mas Joni ikut saya, pak
Agus dan simbok ke kampung aja mas, ntar mas Joni bisa mulai semuanya dari awal
lagi”
Pak Agus :
“Iya mas, kan rumah kami berdekatan, satu kampung lagi, tar mas Joni tinggal
milih mau tinggal dimana, tapi ya maklum mas suasana desa beda dengan suasana
di kota”
Pembantu Joni : “Entar kalo mas Joni kangen dan pengen
ziarah ke makam ayah dan ibu kita antar ke Jakarta kok mas, kan Jakarta – Bandung
ga jauh-jauh banget”
Joni : “Terima kasih banget ya,
aku nyesel belum sempet membahagiakan ayah dan ibu, semasa mereka masih hidup
aku justru sering membuat mereka kecewa, aku susah diatur, ga nurut ma orang
tua”
Pembantu Joni : “Sudah mas, ga usah diinget-inet lagi, yang
udah ya udah, kan bisa dijadikan pelajaran buat mas Joni tar kalo dah gede”
Pak Agus : “Ya udah mending kita pulang dan siap-siap,
habis itu kita pulang ke kampung”
(Coba mengangkat
tubuh Joni)
Pak Joko : “Mas Joni mesti tegar, mesti
mandiri mulai dari sekarang”
(Berdiri)
Joni : “Iya, aku berjanji akan
berubah, aku akan buktiin akan menjadi orang yang sukses kelak, ayah ibu doakan
Joni, Joni mohon pamit”
(Berdiri
dan mengusap air matanya serta mencium pusara ayah dan ibunya.)
(Mereka
meninggalkan pemakaman.)
(Kini
kebahagiaan duniawi Joni lenyap sudah, namun kini ia mendapatkan perasaan yang
belum pernah ia rasakan. Kini ia harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri
tanpa memelas pada orang lain. Dan Joni membuka lembaran barunya di kampung.)